Awas, Tim Pemenangan Prabowo-Sandi Jadi Sarang Ustadz Radikal, Pembohong dan Provokator

Sebelumnya telah diungkap bahwa dari 800 orang yang masuk dalam Badan Pemenangan Nasional (BPN) pasangan Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno, ada sejumlah tokoh yang bisa membuat Indonesia bangkrut dan bubar. Kenapa? Dalam tim kampanye Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno, terdapat sejumlah tokoh membahayakan karena pernah terlibat kasus korupsi dan pembunuhan, ada juga tokoh yang terang-terangan anti Negara Kesataun Republik Indonesia. Kemudian, ada pula tokoh yang diduga terlibat pelanggaran HAM berat seperti Syarwan Hamid (Kasus 27 Juli) dan Yunus Yosfiah (kasus pembantaian 5 wartawandi Balibo).

Selain itu, ada sejumlah pemuka agama yang disebut penebar paham radikal. Bisa dibilang, Badan Pemenangan Nasional (BPN) pasangan Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno ibarat jadi sarang ustadz radikal. Siapakah mereka? Berikut hasil penelusurannya.

Muhammad Al Khaththath: Nama Muhammad Al Khaththath tercatat sebagai Juru Kampanye Nasional dalam Badan Pemenangan Nasional (BPN) pasangan Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno. Namun, rekam jejak Muhammad Al Khaththath sebagai Sekretaris Jenderal Forum Umat Islam (FUI) dikenal lantang menentang keberadaan penganut Ahmadiyah dan Syiah di Indonesia. Karena aksi-aksi itu, Khaththath dan organisasinya dicap oleh sebagian kalangan sebagai kelompok Islam garis keras. Al Khaththath juga ikut menggalang Aksi Bela Islam 21 Februari 2017 atau yang dikenal Aksi Bela Islam 212 Jilid II. (Jejak Al Khaththath, Caleg Gagal yang Coba Gulingkan Jokowi; CNN Indonesia – Sabtu, 01/04/2017) https://www.cnnindonesia.com/nasional/20170331165420-20-204168/jejak-al-khaththath-caleg-gagal-yang-coba-gulingkan-jokowi

Ustadz Bachtiar Nasir: Nama Bachtiar Nasir juga tercatat sebagai Juru Kampanye Nasional dalam Badan Pemenangan Nasional (BPN) pasangan Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno. Namun, rekam jejak juga kurang sedap. Salah satunya pernah menyebarkan kebohongan besar soal sikap Kapolri Jenderal Tito Karnavian terhadap khilafah. Dalam sebuah video yang viral dikalangan kelompok Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), Bachtiar Nasir menyampaikan bahwa Kapolri Tito menyebut sistem khilafah adalah hal yang paling tepat untuk diterapkan sebagai Idiologi Indonesia. Namun keterangan itu dibantah tegas oleh Kapolri Jenderal Tito Karnavian. Karena itu, Tito menganggap Bachtiar Nasir sebagai ustadz yang tidak cerdas (Kapolri Sebut Bachtiar Nasir Ustadz yang Tidak Cerdas; okezone.com – 17 Juli 2018 17).

Selain itu, nama Bachtiar Nasir juga dimasukkan dalam daftar ustadz penebar radikalisme/Wahabiisme oleh Generasi Muda NU (facebook Generasi Muda NU – dutaislam.com). Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta juga pernah merilis hasil penelitian yang menyebutkan bahwa Ustadz Bachtiar Nasir merupakan ustadz yang dianggap radikal bersama Habib Rizieq Shihab, Ustadz Felix Siauw, Ustadz Abu Bakar, dan Ustadz Tengku Zulkarnaen (Felix Siauw, Habib Rizieq dan Bachtiar Nasir Masuk Daftar Tokoh Radikal Menurut Survey PPIM UIN Jakarta; kiblat.net – 9/11/2017) https://www.kiblat.net/2017/11/09/habib-rizieq-disebut-ulama-paling-radikal-dalam-survei-ppim-uin-jakarta/

Ustadz Fahmi Salim: Nama Fahmi Salim juga tercatat sebagai Juru Kampanye Nasional dalam Badan Pemenangan Nasional (BPN) pasangan Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno. Pada awalnya, nama Fahmi Salim masuk dalam daftar 200 penceramah yang direkomendasikan pemerintah melalui Kementerian Agama. Anehnya, Fahmi Salim malah meminta Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin mencoret namanya dari daftar 200 penceramah yang direkomendasikan pemerintah tersebut (Kumparan – 21 Mei 2018). Tampaknya, Fahmi Salim malah lebih senang bergabung dengan para ustadz yang dianggap radikal, semacam Bachtiar Nasir yang dikenal sebagai teman dekatnya.

Ustadz Teungku Zulkarnaen : Nama Teungku Zulkarnaen tercatat sebagai Juru Kampanye Nasional dalam Badan Pemenangan Nasional (BPN) pasangan Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno. Namun sepak terjang Teungku Zulkarnaen sering menimbulkan kontroversi. Selain pernah dimasukkan dalam daftar 20 ustadz penebar radikalisme/Wahabiisme oleh Generasi Muda NU (facebook Generasi Muda NU – dutaislam.com) , Teungku Zulkarnaen juga pembohong dan penebar fitnah – hoax. Cukup banyak info bohong – hoax yang ditebar Teungku Zulkarnaen (Kumpulan Fitnah Dan Hoax Wasekjen MUI Tengku Zulkarnain Kepada Kompas TV Sampai Banser; nahimunkarnews.com – 21 September 2017)

Hasil penelitian Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta juga menyebutkan bahwa Ustadz Tengku Zulkarnaen merupakan ustadz yang dianggap radikal bersama Habib Rizieq Shihab, Ustadz Felix Siauw, Ustadz Abu Bakar.(Felix Siauw, Habib Rizieq dan Bachtiar Nasir Masuk Daftar Tokoh Radikal Menurut Survey PPIM UIN Jakarta; kiblat.net – 9/11/2017) https://www.kiblat.net/2017/11/09/habib-rizieq-disebut-ulama-paling-radikal-dalam-survei-ppim-uin-jakarta/

Kabar terbaru, Putri Gus Dur, Yenny Wahid, sempat “menceramahi” Teungku Zulkarnaen karena menebar hoax saat memberikan tanggapan pada akun @yennywahid (23/08/2018). Saat itu, Teungku Zulkarnaen melalui akun @ustadtengkuzul menanggapi twit Yenny seperti ini: “mbak Yenny, nabi sabar pd urusan pribadi. kalau urusan agama dihina nabi kirim pasukan perang walau hanya 3000 melawan 30.000 (perang Mu’tah). Lagian kalau menyangkut masalah hukum negara wajib dijalankan, kalau tidak rakyat akan main hukum rimba dan ini bahaya tidak boleh terjadi.”

Karena isi twit Teungku Zulkarnaen dinilai keliru, Yenny memberikan tanggapan balik untuk meluruskan kekeliruan Teungku Zulkarnaen. “Perang Mu’tah terjadi krn utusan Nabi, Harits bin Umair dibunuh oleh penguasa Bashra, bukan karena masalah penghinaan agama. Membunuh utusan khusus pada zaman itu sama dengan deklarasi perang. Kalau @UztadTengkyu ingin ambil contoh penghinaan agama, maka kasus Anusyirwan yang merobek2 surat Nabi lebih pas. Apakah Nabi mengirim pasukan untuk menyerangnya? Tidak. Nabi berdoa agar Anusyirwan dan keluarganya diazab Allah,” tulis Yenny.

Ustadz Fadlan Garamattan: Nama Ustadz Fadlan Garamattan tercatat sebagai Juru Kampanye Nasional dalam Badan Pemenangan Nasional (BPN) pasangan Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno. Namun ulama kondang di Indonesia timur ini pernah diperingatkan MUI Papua karena dianggap sebagai ustadz provokator (MUI Papua Panggil Fadlan Garamatan karena Ceramah Provokatif; suaraislam.co – 23 Maret 2018).

Bahkan, Fadlan Garamattan dilaporkan ke polisi karena dinilai telah menghina orang Papua melalui ceramah keagamaannya yang disebar melalui video. Pengacara warga Papua pelapor, Yulianto, mengatakan, isi ceramah Fadlan yang viral di media sosial itu dinilai telah menghina dan merendahkan harkat dan martabat rakyat Papua. Sedang isi ceramahnya adalah bohong, menghina dan menghasut serta merendahkan martabat orang (Ini Ceramah Ustaz Fadlan yang Bikin Orang Papua Kesal; viva.co.id – 27 Maret 2018).

Tokoh agama, tokoh masyarakat maupun tokoh politik merasa terusik kemudian mengecam Ustadz Fadlan. Ustad Wahabi itu dilaporkan ke pihak berwajib untuk segera dipanggil dan dimintai keterangan oleh Gerakan Oikumene di Tanah Papua, Senin (26/03/2018).(Geram, Ini Enam Tuntutan Oikumene Papua pada Ustadz Fadlan Garamatan; dutaislam.com – 27 Maret 2018)

Para ustadz juru kampanye Prabowo-Sandi tersebut cenderung memiliki pandangan segaris dengan tokoh PKS, Mardani Ali Sera, yang menjadi inisitaor gerakan tagar #2019GantiPresiden. Seperti diketahui, pengurus PKS ini juga mengkampanyekan gerakan Ganti Sistem bersama pentolaj Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) yang anti Pancasila dan ingin mendirikan Negara khilafah. Padahal, HTI jelas-jelas sudah dinyatakan sebagai organisasi terlarang seperti Partai Komunis Indonesia (PKI). Mardani Ali Sera sendiri juga ikut masuk sebagai Juru Kampanye Nasional pasangan Prabowo-Sandi.

Harap dicatat, saat ini, warga Irak, Suriah dan Libia sangat menyesal karena Negara telah dilandai konflik bersenjata tiada akhir. Kehancuran Negara mereka juga diawali dengan banyaknya berita hoax seputar isme-isme agama. Harusnya Indonesia berantakan seperti itu?