Debat Kedua (Capres): Jokowi Berhasil Memenangkan Hati Para Swing Voters

Opini : Rudi S. Kamri

Malam ini dan beberapa hari ke depan para pendukung masing-masing Capres pasti sibuk mengklaim jagoannya yang menang debat. Hasil debat pasti akan diperdebatkan. Tidak ada hasil debat Capres yang obyektif kecuali ada panel pakar yang menilai hasil debat.

Bagi saya debat Capres itu tidak akan pernah membuat pendukung Capres yang satu pindah pilihan ke Capres yang lain. Mereka akan tetap  sama-sama kekeuh bahwa jagoannya yang menang.

Debat Capres bagi saya yang utama adalah untuk meyakinkan para Swing Voters atau Undecided Voters yang besarnya masih sekitar 10 – 15%. Mayoritas mereka terdiri dari kaum milenial & pemilih pemula dan sebagian adalah masyarakat akar rumput. Mungkin sebagian lagi adalah masyarakat kelas menengah yang apatis terhadap politik.

Kalau mengacu pada kelompok Swing Voters tersebut di atas, sangat jelas malam ini Capres Jokowi MENANG MUTLAK di segala lini. Beliau sangat menguasai data-data teknis sedangkan Prabowo hanya bermain dengan kata-kata sambil meringis. Sebagai contoh kalangan milenial dan kelas menengah jauh lebih yakin dan optimis bahwa di bawah kepemimpinan Jokowi Industri 4.0 dengan segala turunannya akan berkembang pesat dan mereka sangat merasa terakomodasi kepentingannya karena mereka saat ini sudah bergelut di bidang itu.

Sedangkan pendapat Prabowo dalam masalah Industri 4.0 seperti sosok dinosaurus yang sangat tidak menguasai masalah. Dia bukan hanya tergagap-gagap memahami apa itu UNICORN tapi yang mengkhawatirkan bagi generasi pelaku Industri 4.0, adalah ada indikasi kuat Prabowo akan membatasi pertumbuhan bisnis ini karena dia takut uang kita akan banyak lari keluar negeri. Bagi pelaku bisnis yang terkait dengan industri 4.0 akan bengong, bingung dan akhirnya tertawa berguling-guling apa kaitannya perkembangan start-up dan unicorn dengan uang lari ke luar negeri. Ini dengan jelas menunjukkan bahwa pemahaman Prabowo dalam bidang ini sangat terbatas bahkan mungkin tidak menguasai sama sekali.

Bagi masyarakat akar rumput yang mengikuti debat ini pasti sangat mendukung Jokowi karena mereka secara langsung sudah merasakan kebijakan Jokowi dalam hal sertifikasi tanah gratis, penyediaan pangan yang cukup dan harga-harga bahan pangan yang stabil. Sedangkan Prabowo hanya bermain dengan tuduhan-tuduhan serta  jargon-jargon ala orde baru yang menggunakan kata-kata langit tapi tidak mempunyai konsep detail yang membumi dan nyata yang lebih baik untuk ditawarkan kepada rakyat.

Blunder besar Prabowo adalah pada saat dia berulang-ulang mengutip Pasal 33 bahwa kekayaan negara harus dikuasai oleh negara dan untuk digunakan sebesar- besarnya bagi kemakmuran rakyat Indonesia. TAPI Jokowi dengan cerdik mengungkap bahwa ternyata Prabowo menguasai 220 ribu hektar lahan di Kalimantan dan 160 ribu hektar di Aceh. Pengungkapan fakta ini memukul telak Prabowo dan membuktikan bahwa dia orang yang tidak konsisten antara janji dan realita. Ini blunder besar bagi Prabowo dan Timsesnya yang mungkin tidak menduga Jokowi akan berani mengungkap fakta tersebut ke publik.

Kesalahan besar lain dari kubu Prabowo adalah hanya memaknai pembangunan infrastruktur yang dilakukan Jokowi hanya pembangunan jalan tol semata, mereka tidak menduga bahwa ternyata capaian kerja Jokowi juga menggarap dengan intens infrastruktur di pedesaan seperti pembangunan jalan desa, pasar desa, embung-embung kecil di lingkup desa, fasilitas akses ekonomi di pedesaan dan lain-lain. Dan bagi masyarakat di pedesaan hal ini adalah hasil nyata yang telah mereka nikmati selama pemerintahan Jokowi.

So, boleh saja para pendukung Capres berbusa- busa saling berdebat tentang hasil debat. Tapi secara obyektif harus diakui bahwa pada malam ini Jokowi telah berhasil dengan gemilang MEMENANGKAN HATI para Swing Voters. Ini fakta yang tidak terbantahkan.

PR besar bagi Timses Jokowi selanjutnya adalah mengkapitalisasi kemenangan Jokowi pada malam ini menjadi dukungan nyata dari kelompok Swing Voters untuk menjatuhkan pilihan kepada Jokowi.

Bagi saya kemenangan Jokowi di atas kertas sudah pasti. Yang bisa mengalahkan adalah serangan fitnah, hoax dan politisasi agama yang kemungkinan besar akan dimainkan kembali oleh pihak lawan. Ini yang harus diantisipasi oleh Kubu Jokowi. Disamping itu serangan kecurangan pada saat pencoblosan juga perlu diwaspadai.

Kalau otak kalah, otot dan kelicikan yang akan melangkah. Ini adagium yang sering digunakan oleh kelompok pecundang dimanapun.

Mudah-mudahan kebenaran dan hasil yang baik masih tetap akan berpihak pada orang yang baik. Semoga….

Salam SATU Indonesia

17022019