Kesaksian Korban Penculikan 1998 dan Kata Munir Pengacara Korban

Pada Februari – April 1998, puluhan aktivis hilang satu per satu. Sebagian ada yang bisa pulang kembali, sebagian lagi hilang tak diketahui jejaknya hingga hari ini.

Begini kesaksian Mugiyanto, salah satu aktivis 1998 korban penculikan yang bisa pulang.


9 korban penculikan yang berhasil kembali

  • Aan Rusdiyanto, hilang pada 13 Maret 1998. Ia diambil paksa saat berada di rumah susun Klender, Jakarta Timur.
  • Andi Arief, hilang pada 28 Maret 1998. Ia diambil paksa di Lampung.
  • Desmond Junaedi Mahesa, hilang pada 3 Februari 1998. Saat itu, ia terakhir terlihat di Salemba, Jakarta Pusat.
  • Faisol Reza, hilang pada 12 Maret 1998. Ia dikejar dan ditangkap di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), Jakarta Pusat.
  • Haryanto Taslam, hilang pada 8 Maret 1998. Ia dikejar saat mengendarai mobil dikejar dan ditangkap di pintu Taman Mini Indonesia Indah.
  • Mugiyanto, hilang pada 13 Maret 1998. Ia diambil paksa di rumah susun Klender, Jakarta Timur.
  • Nezar Patria, hilang pada 13 Maret 1998. Ia diambil paksa di rumah susun Klender, Jakarta Timur.
  • Pius Lustrilanang, hilang pada 4 Februari 1998. Ia terakhir terlihat di RSCM, Jakarta Pusat.
  • Rahaja Waluya Jati, hilang pada 12 Maret 1998. Ia dikejar dan ditangkap di RSCM, Jakarta Pusat.

13 Korban yang masih hilang

  • Dedy Umar Hamdun, hilang pada 29 Mei 1997. Ia terakhir terlihat di Tebet, Jakarta Selatan.
  • Herman Hendrawan, hilang pada 12 Maret 1998. Ia terakhir terlihat di gedung Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI).
  • Hendra Hambali, hilang pada 14 Mei 1998. Ia terakhir terlihat di Glodok Plaza, Jakarta Pusat.
  • Ismail, hilang pada 29 Mei 1997. Ia terakhir terlihat di Tebet, Jakarta Selatan.
  • M. Yusuf, hilang pada 7 Mei 1997. Ia terakhir terlihat di Tebet, Jakarta Selatan.
  • Nova Al Katiri, hilang pada 7 Mei 1997. Ia terakhir terlihat di Jakarta.
  • Petrus Bima Anugrah, hilang pada 1 April 1998. Ia terakhir terlihat di Grogol, Jakarta Barat.
  • Sony, hilang pada 26 April 1997. Ia terakhir terlihat di Kelapa Gading, Jakarta Utara.
  • Suyat, hilang pada 13 Februari 1998. Ia terakhir terlihat di Solo, Jawa Tengah.
  • Ucok Munandar Siahaan, hilang pada 14 Mei 1998. Ia terakhir terlihat di Ciputat, Tangerang Selatan.
  • Yani Afri, ia hilang pada 26 April 1997. Ia terakhir terlihat di Kelapa Gading, Jakarta Utara.
  • Yadin Muhidin, ia hilang pada 14 Mei 1998. Ia terakhir terlihat di Sunter Agung, Jakarta Utara.
  • Wiji Thukul, hilang pada akhir 1998. Ia terakhir terlihat di Utan Kayu, Matraman, Jakarta Timur.
  • Dalam penculikan tersebut, Leonardus Nugroho alias Gilang, seorang aktivis yang berprofesi sebagai pengamen jalanan dan sering terlibat dalam kegiatan bersama mahasiswa di Yogyakarta dan Solo, akhirnya ditemukan di Magetan, Jawa Timur, dalam keadaan tewas dengan luka tembak di tubuhnya.

Dari daftar di atas, masih ada satu aktivis yang tercatat di Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) yang juga masih hilang, bernama Abdu Naser. Ia hilang pada 14 Mei 1998, dan terakhir terlihat di Karawaci, Tangerang.

Siapa bertanggungjawab terhadap penculikan puluhan aktivis ini?

Menurut laporan tim ad hoc Komisi Penyelidikan Pelanggaran HAM Berat Penghilangan Orang Secara Paksa (PPOSP) periode 1997-1998, Tim Mawar adalah yang paling bertanggungjawab atas peristiwa penculikan puluhan aktivis ini.

Tim Mawar merupakan sebuah tim yang dibentuk dibawah Grup IV Komando Pasukan Khusus (Kopassus) berdasar perintah langsung dan tertulis dari Komandan Jenderal (Danjen) Kopassus Mayjen TNI Prabowo Subianto.

Perintah tersebut diberikan kepada Komandan Grup 42 Kopassus Kolonel Chairawan, yang selanjutnya dilanjutkan kepada Komandan Batalyon 42 Mayor Bambang Kristiono.

Kebijakan dan praktik penghilangan paksa dilanjutkan pada kepemimpinan Mayjen TNI Muchdi Purwoprandjono di mana penculikan tetap berlangsung.

Dalam halaman 302 laporan tersebut, juga disebutkan bahwa berdasar waktu dibentuknya Tim Mawar, yaitu Juli 1997, dimungkinkan adanya tim lainnya atau personel yang telah dibentuk atau ditunjuk secara institusional oleh Kopassus.

“Terjadinya penahanan baik sebelum dibentuknya Tim Mawar dan dalam dua kepemimpinan dari Mayjen TNI Prabowo kepada Mayjen TNI Muchdi Pr. Hal ini menunjukkan bahwa tindakan penghilangan orang secara paksa atau penculikan merupakan tindakan yang dilakukan berdasarkan sebuah kebijakan secara institusional di bawah tanggungjawab Danjen Kopassus,” bunyi laporan tersebut.