Menelusuri Jejak Prabowo: Anak Pemberontak yang Bermimpi Jadi Presiden

Banyak yang menganggap bahwa keluarga Prabowo merupakan keluarga yang tergolong terhormat. Namun, banyak juga yang bilang bahwa keluarga Prabowo merupakan aktor pemberontak yang pernah menentang NKRI pada dekade 1950-an. Pertanyaanya, kalau sejarah hidupnya berasal dari keluarga pemberontak, kenapa Prabowo sampai bisa jadi Calon Presiden? Bagaimana nasib Indonesia nanti jika Prabowo Subianto jadi Presiden RI?

Silsilah Keluarga Prabowo
Ayah Prabowo bernama Soemitro Djojohadikoesoemo. Ibu Prabowo bernama Dora Marie Sigar. Kakek Prabowo dari ibunya bernama Philip FL Sigar. Nenek Prabowo dari ibunya bernama N. Maengkom.

Dari pernikahan antara Soemitro Djojohadikoesoemo dengan Dora Marie Sigar, mereka memperoleh keturunan beberapa orang anak yaitu : Biantiningsih Miderawati Djiwandono; Marjani Ekowati le Maistre; Prabowo Subianto Djojohadikusumo; Hashim Sujono Djojohadikusumo.

Prabowo dan Jejak Keluarga Pemberontak
Jejak keluarga Prabowo sebagai aktor pemberontak NKRI adalah nyata adanya dan hal itu bukan hoax. Bila ingin tahu fakta-faktanya silakan menelusuri langsung buku-buku sejarah atau hasil penelitian para sejarawan yang tersimpan dalam perpustakaan perguruan tinggi. Dari sekian banyak dokumen, pasti akan ditemukan nama Sumitro Djojohadikusumo, yakni ayah kandung Prabowo Subianto.

Dalam berbagai leteratur banyak yang mencatat bahwa Sumitro Djojohadikusumo pernah menjabat sebagai Menteri Perhubungan dan Pelayaran dalam kabinet Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) yang terang-terangan telah melawan dan memberontak terhadap NKRI pada tahun 1958. Selain dicap sebagai pemberontak, Sumitro merupakan tookoh politik yang diduga melakukan tindak korupsi.

Sebelum bergabung dengan pemberontak PRRI, sejak 1957 Sumitro Djojohadikusumo sering jadi berita di Harian Rakjat dan Bintang Timur karena diduga terlibat korupsi. Terkait hal ini, ayah Prabowo Subianto itu pernah diperiksa Corps Polisi Militer (CPM) pada 6-7 Mei 1957. Namun, ketika ada kabar Sumitro akan ditahan, tokoh PSI itu segera “kabur” dari Jakarta menuju Sumatera. ( https://tirto.id)

Setelah kabur, Sumitro bergabung dengan para pemberontak Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) yang diproklamasikan di Padang (1958). Dalam kabinet PRRI pimpinan Sjafruddin Prawiranegara, Sumitro ditunjuk sebagai Menteri Perhubungan dan Pelayaran.

Pimpinan PSI, Sutan Sjahrir, sempat mengutus beberapa kader partai untuk membujuk Sumitro agar kembali ke Jakarta. Namun, sia-sia. Sumitro justru “berkelana” ke Singapura, Saigon, dan Manila. Sumitro nekat melawan pemerintahan Sukarno dan terus mengembara membawa istri dan anak-anaknya.

Pada masa Orde Baru, saat Soeharto menjadi penguasa diktator, Sumitro baru berani pulang ke Indonesia. Anehnya, Soeharto memberi jabatan penting kepada Sumitro, yakni sebagai arsitek perekonomian. Pada saat Sumitro menduduki jabatan pnting inilah, kiprah Prabowo mulai diangkat melalui praktik KKN. Sejak itulah, keluarga Prabowo jadi aman, bahkan bisa bebas melakukan apa saja karena mendapat perlindungan khusus dari Soeharto. Apalagi, Prabowo akhirnya menjadi menantu Soeharto.

Sepak Terjang Prabowo Masa Muda
Prabowo Subianto muda, ketika aktif di militer dan sebagai menantu diktator Orba Presiden Suharto adalah perwira yang menonjol karena ambisi dan KKN. Saat mengikuti pendidikan di Akademi Militer (Akmil) pada tahun 1970, Prabowo menggunakan rekomendasi ayahnya, Profesor Soemitro Djojohadikusumo.

Saat pendidikan di Akmil, Prabowo bersikap ekslusif karena merasa tidak nyaman dengan lingkungan pergaulan yang dinilainya bukan level atau ‘kelasnya’ sebagai anak orang kaya. Sebenarnya, Prabowo pernah desersi atau melarikan diri dari pendidikan Akmil. Namun karena berkat “kesaktian” ayahnya, Prabowo tetap aman hingga bisa menyelesaikan pendidikannya. Bahkan, Prabowo bisa menduduki posisi penting.

Statusnya sebagai menantu presiden mendukung ambisi Prabowo meraih karir secara luar biasa di TNI, mendapat perlakuan istimewa dan selalu menimbulkan gejolak di lingkungan TNI karena perilakunya yang tidak sesuai tradisi dan budaya militer, terutama terkait loyalitas kepada atasan / komandan.

Prabowo terbukti berulang kali melakukan kesalahan yang melanggar rantai komando di TNI. Sering melangkahi atasannya dengan memberikan laporan tertentu langsung kepada Panglima ABRI bahkan pada Presiden Suharto, yang juga adalah mertuanya.

Sebagai atasan atau pemimpin di lingkungan TNI, Prabowo sangat melindungi dan perhatian kesejahteran para bawahannya atau anak buahnya. Namun, sebaliknya, sebagai bawahan, Prabowo terkenal suka melawan atasannya, suatu sikap yang sangat diharamkan di militer /TNI.

Posisi Prabowo sebagai menantu Suharto membuatnya leluasa KKN mengumpulkan harta di zaman Orba, mengobok – obok organisasi TNI dan melindungi korupsi yang dilakukan keluarganya.

Dosa Prabowo Pun Mulai Terbongkar
Ketika pemerintahan Orde Baru runtuh dan Soeharto lengser dari jabatan Presiden Indonesia pada 1998, langkah hidup Prabowo agak tersendat. Bahkan, Prabowo disebut-sebut berupaya melakukan kudeta terhadap Presiden BJ Habibie sehingga Prabowo dicopot dari jabatannya sebagai Pangkostrad pada tahun 1998.

Entah kenapa, usai dicopot dari TNI, Prabowo malah “menghilang” dengan pergi ke Yordania. Boleh jadi, Prabowo ingin mengamankan diri dengan meniru langkah ayahnya saat menjadi terduga pelaku korupsi dan terlibat pemberontakan PRRI. Prabowo sengaja menghilang untuk menghindari pengadilan militer paska keputusan DKP, yang telah memecatnya dari keanggotaannya sebagai TNI.

Di luar itu, sejak Soeharto jatuh, banyak daftar dosa Prabowo yang terungkap ke publik. Salah satunya, Prabowo dituding sebagai aktor utama peristiwa kerusuhan Mei 1998, baik oleh Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) atau pun oleh media – media asing yang melalukan investigasi terhadap peristiwa kerusuhan tersebut.

Prabowo dituduh sebagai otak penculikan 23 aktivis pada 1998 yang hingga kini 9 di antaranya jenazah atau mayatnya tidak ditemukan. Kasus penculikan dan pembunuhan para aktivis ini merupakan kejahatan HAM berat yang hingga kini belum dipertanggungjawabkan Prabowo.

Belakangan juga terungkap bahwa keluarga Prabowo ternyata merupakan aktor utama skandal korupsi terbesar dalam sejarah Indonesia terkait penyaluran dana Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) sebesar Rp144,5 triliun pada 1997 lalu. Inisiator bantuan likuiditas BLBI ini adalah Soeharto (nertua Prabowo), sedang pelaksananya adalah Soedrajat Djiwandono (ipar Prabowo yang saat itu menjabat Gubernur Bank Indonesia). Sedang adik kandung Prabowo, Hashim Djojohadikusumo, masuk dalam daftar penerima BLBI.

Anehnya, para kerabat Prabowo itu tak ada yang terjerat hukum. Padahal, menurut laporan yang dilansir Jurnal Kriminologi Indonesia Volume 5 Nomor 1 Februari 2009 terbitan Universitas Indonesia, berdasarkan temuan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), dalam kasus BLBI ini negara mengalami kerugian sebesar Rp 138,442 triliun atau 95,78% dari dana BLBI.

Lebih aneh lagi, kekayaan Prabowo tiba-tiba naik pesat tanpa diketahui dengan jelas dari mana sumbernya. Pada tahun 2003, harta kekayaan Prabowo hanya Rp. 10 miliar, tapi tiba – tiba melonjak menjadi Rp. 1.7 triliun pada tahun 2009.

Jejak Aneh Anak Pemberontak
Mungkinkah kekayaan melimpah itu punya peran besar yang membuat anak pemberontak ini tetap aman dari jeratan hukum, bahkan bisa tampil sebagai Calon Presiden berkali-kali? Mari kita lacak terus sampai akhir hayatnya.

Yang pasti, masih banyak hal aneh di balik jejak hidupnya. Contohnya, Prabowo pernah ditudung sebagai pengemplang kredit macet Rp. 2.2 triliun di Bank Mandiri melalui PT Kiani Kertas. Prabowo juga dituding sebagai pihak yang bertanggung jawab pada kerugian negara sebesar US$ 1.08 miliar atau Rp. 12 triliun pada kasus Churchill Mining dan merusak reputasi Indonesia di mata investor dunia, serta menghancurkan kepastian hukum.

Prabowo juga dituding menelantarkan jutaan hektar tanah yang dikuasainya di seluruh Indonesia, yang seharusnya dapat sangat bermanfaat bagi peningkatan kesejahteraan rakyat di tengah – tengah kepemilikan tanah petani Indonesia hanya 0.2 hektar per orang. Ironinya, walau kekayaannya meningkat pesat, Prabowo malah kena protes karena dianggap tega tidak membayar gaji ribuan karyawan PT Kiani Kertas.

Perlu dicatat, bahwa setelah Soekarno “dikudeta” dan Soeharto (mertua Prabowo) ganti yang berkuasa, banyak perusahaan asing yang berbondong-bondong masuk ke Indonesia merampas aneka macam kekayaan alam. Jurnalis Australia John Pilger menyebutkan bahwa pada November 1967, setelah Soekarno lengser dari kekuasaan, ada konferensi tiga hari yang disponsori Time-Life Corporation di Jenewa, Swiss dan dipimpin Rockefeller. Semua perusahaan raksasa mengirim perwakilannya seperti perusahaan-perusahaan minyak besar, bank termasuk Chase Manhattan, General Motors, Imperial Chemical Industries, British American Tobacco, Siemens, US Steel, dan banyak lainnya. Kemudian terjadilah “penjarahan” sumber daya alam. Freeport mendapat gunung tembaga di Papua Barat, konsorsium AS/Eropa mendapat nikel, dan perusahaan raksasa Alcoa mendapat sebagian besar bauksit Indonesia. Tidak hanya itu, perusahaan-perusahaan Amerika, Jepang, dan Prancis mendapat jatah hutan tropis Sumatra. (Miliarder Rockefeller di Balik Penjarahan Kekayaan Alam Indonesia; Republika.co.id – Selasa 21 Maret 2017).

Anehnya, Prabowo kini sering berteriak-teriak anti asing ketika dia bermimpi ingin menjadi Presiden Indonesia. Anak pemberontak PRRI ini tampaknya pintar membuat panggung sandiwara di depan publik untuk menyembunyikan dosa-dosa masa lalunya dan dosa masa lalu keluarganya. Kalau anak pemberontak ini sampai bisa menang Pemilu dan berhasil menjadi Presiden Indonesia, tentunya akan lebih banyak sandiwara lagi yang bisa dimainkannya. Sedang nasib rakyat, lagi-lagi hanya akan menjadi korban ambisinya saja. Karena itu, untuk mencegah terjadinya korban-korban baru atas ketamakannya, hanya satu kata yang harus dijalankan, yaknI; LAWAN! Bukan begitu?