Pendukung #PrabowoKeturunanKafir Sebar Hoax Soal Penghapusan Pendidikan Agama: Pelakunya Emak Berpakaian Logo PKS

Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Kota Makassar menginvestigasi rekaman video yang diduga memiliki unsur black campaign atau kampanye hitam terhadap salah satu calon pasangan presiden.

Dalam video yang dimaksud, terlihat seorang perempuan paruh baya berjilbab kuning, sedang berbicara kepada orang lain, yang tidak diperlihatkan dalam video.

Perempuan yang belum jelas identitasnya itu meminta agar masyarakat memilih pasangan Calon Presiden-Wakil Presiden RI, Prabowo Subianto-Sandiaga Salahuddin Uno.

“Kita pilih Prabowo itu kan, kita memikirkan nasib agama kita, anak-anak kita. Walaupun kita yang tidak menikmati, tapi besok 5 tahun 10 tahun yang akan datang apakah kita mau pelajaran agama di sekolah dihapuskan oleh Jokowi bersama ininya, menteri-menterinya. Itu kan salah satu programnya mereka (Jokowi),” sebut perempuan tersebut.

Perempuan itu juga mengatakan, program Jokowi-Ma’ruf lainnya, selain menghapus pelajaran agama, adalah mengubah sekolah pesantren menjadi sekolah umum.

Sebelum perempuan itu melanjutkan penjelasannya, orang lain tiba-tiba menyela. Video yang diduga diambil sembunyi-sembunyi itu kemudian berhenti pada detik ke 45.

Ketua Bawaslu kota Makassar, Nursari mengatakan video itu sudah sampai di pengawas di tingkat kecamatan.

“Kami langsung berkoordinasi dengan Bawaslu provinsi untuk menshare di grup supaya di Sulsel langsung diidentifikasi tempatnya, apakah memang kejadian atau lokusnya di Sulsel atau seperti apa,” ucap Nursari di kantornya jalan Anggrek, Selasa (5/3/2019).

Nursari tidak bisa menjustifikasi apakah video itu asli atau sengaja. Hal itu baru bisa diketahui setelah proses investigasi. Walau begitu, Nursari menilai memang diduga ada unsur black campaign atau kampanye hitam dalam video tersebut.

“Kalau diduga iya. Tapi untuk menjustifikasi kami belum berani mengatakan itu melanggar atau seperti apa. (Yang diduga black campaign) Seperti, mengatakan apabila ini yang menang, maka akan ada penghilangan ini, agama dan lain-lain. Kan itu mengancam eksistensi kita sebagai warga negara yang multietnis,” pungkas Nursari.