Pengumuman Pilpres 2019 Saat Dini Hari, Apakah Wajar?

(Rahasia Ilahi Mengingatkan Tumbangnya Orde Baru di tanggal 21 Mei)

Rofiq Al Fikri, Koordinator Jaringan Masyarakat Muslim Melayu (JAMMAL)

Komisi Pemilihan Umum (KPU) meresmikan hasil perhitungan suara nasional Pilpres 2019 pada Selasa dini hari pukul 02.46 WIB di Jakarta, disaksikan oleh Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu), DKPP, dan kedua saksi paslon capres. Hasilnya, Jokowi-Maruf menang dengan presentase 55,50 %, sementara Prabowo 44,50%. Namun, Prabowo dan pendukungnya menggiring opini bahwa penetapan hasil rekapitulasi pada dini hari adalah hal yang janggal. Benarkah?

1⃣ KPU patuh terhadap UU Pemilu.

Buzzer berkedok ulama yang kerap menyebar berita hoax seperti Tengkuzulkarnaen misalnya, menyebut KPU berbohong karena nyatanya mengumumunkan perhitungan suara pada 21 Mei, karena sebelumnya dijadwalkan 22 Mei.

Faktanya, KPU patuh terhadap UU, Tengkuzul dan pendukung Prabowo saja yang tidak paham hukum. Karena UU mengatur, KPU diharuskan menyelesaikan rekapitulasi suara pemilu 2019 paling lama 35 hari setelah Pilpres, yang artinya jatuh pada 22 Mei 2019. Jadi, kalau diumumkan tanggal 21 Mei tidak melanggar, kalau lebih dari 22 Mei 2019 itu yang melanggar hukum.

Keputusan KPU yang mengumumkan hasil rekapitulasi satu hari lebih cepat dari batas waktu juga dibenarkan oleh Pakar Hukum Tata Negara Yusril Izha Mahendra yang menyebut PKPU No. 19 tidak mengatur jadwal pasti kapan harus diumumkan rekapitulasi pemilu, yang diatur hanya batas waktu maksimal. Jadi, mau diumumkan dini hari, tengah malam, atau tengah hari bolong, semua tidak melanggar aturan apa pun.

2⃣ Kalau Tidak Dini Hari, Mungkin Pengumuman Tidak Disaksikan Saksi Paslon 02.

Kita tahu, rekapitulasi suara pilpres 2019 di 34 provinsi sudah selesai dihitung tadi malam, yang sesuai tata tertib harus ditutup dengan pembacaan putusan. Pembacaan itu pun disaksikan oleh saksi kedua paslon. Kita tahu, pada dini hari tadi, bahkan saksi paslon 02 juga ada saat pengumuman pemenang Pilpres oleh KPU. Partai Demokrat pun menandatangani hasil rekapitulasi suara Pilpres dini hari tadi.

Tentu saja, jika pengumuman hasil rekapitulasi ditunda keesokan harinya (22 Mei), atau pada 21 Mei siang hari ini (di saat rekapitulasi sudah ada hasil finalnya), saksi dari paslon 02 mungkin enggan datang ke KPU, karena mereka sudah tahu hasilnya akan kalah. Dengan tidak hadir, mereka bisa menggiring opini, bahwa KPU bertindak tidak transparan karena tidak dihadiri pihak 02.

Rakyat pun akan kembali dirundung ketidakpastian politik karena saling klaim dari berbagai pihak. Maka dari itu, pengumuman pilpres 2019 dini hari 21 Mei adalah langkah yang paling tepat, karena rakyat ingin segera mengakhiri pertarungan Pilpres yang melelahkan ini. Ingat, “lebih cepat, lebih baik”. Jadi, ucapan Prabowo yang mengatakan pengumuman pemenang Pilpres dini hari janggal, sangat tidak beralasan.

3⃣ Kalau Tidak Dini Hari, KPU Akan Dituduh Manipulasi Hasil Pemilu

Rekapitulasi/Perhitungan suara nasional yang sudah selesai sekitar pukul 01.00 WIB dini hari di tanggal 21 Mei 2019, harus tetap dilanjutkan dengan pengumuman secara resmi hasil perhitungan tersebut. Karena jika itu tidak dilakukan, ditunda misalnya, akan ada spekulasi sesat yang coba dihembuskan ke publik.

Salah satu contoh, kubu 02 bisa saja menuduh ”KPU memanipulasi hasil perhitungan nasional, buktinya, mereka tidak segera mengumumkan siapa pemenangnya padahal sudah ada hasilnya, pasti itu karena yang menang Prabowo, bukan Jokowi, jadi pengumuman ditunda, data dirubah sedemikian mungkin agar yang menang tetap Jokowi”. Melihat rekam jejak kubu Prabowo, isu tersebut sangat mungkin dihembuskan jika KPU tidak mengumumkan hasil perhitungan suara dini hari tadi. KPU berhasil melakukan antisipasi fitnah!

4⃣ 21 Mei Dini Hari, Tuhan Ingin Mengingatkan Rakyat Indonesia Akan Semangat Reformasi.

Kita tidak pernah tahu rahasia ilahi. Mungkin Allah sudah mengatur ini semua, pengumuman Pilpres nyatanya bisa diumumkan pada 21 Mei 2019, itu semua tidak akan dapat terjadi tanpa kehendak Allah SWT. Kita tahu, 21 Mei adalah hari bersejarah bagi rakyat Indonesia. Tepat 21 tahun yang lalu, hari ini, 21 Mei 1998, rakyat Indonesia berhasil menumbangkan rezim otoriter Soeharto. Era reformasi yang menandakan perbaikan sistem politik dan ekonomi Indonesia dimulai.

Hari ini juga di tanggal 21 Mei, rakyat melalui Pemilu berhasil menggagalkan para keluarga Soeharto yang ingin kembali berkuasa (Prabowo mantan mantu Soeharto dan semua anak Soeharto Titiek, Tommy, Mamiek, Bambang / Keluarga Cendana resmi mendukung Prabowo di Pilrpes 2019 untuk kembali bisa berkuasa).

Di tanggal 21 Mei, rakyat kembali berhasil menang, menumbangkan kekuatan politik yang berniat memecah belah dengan hoaks dan politisasi suku/agama. Ah, begitu indah takdir Tuhan. Sekali lagi, Selamat Rakyat Indonesia!